Oleh : Sokip, SH
Kita sangat layak merasa prihatin mendengar bekas orang hukuman (terpidana) masuk bursa DCS (daftar calon sementara), diusulkan partai untuk duduk di kursi DPR RI.
Sebagaimana kita ketahui, hampir seluruh media baik cetak maupun elektronik memberitakan penyerahan daftar nama calon sementara anggota DPR RI dari partai politik (parpol) ke KPU (komisi pemilihan umum).
Siapa saja mereka yang layak menjadi wakil rakyat di gedung megah Senayan? Informasinya; selain masih didominasi tokoh lama, muncul golongan muda dari kalangan artis yang kepintarannya banyak diragukan praktisi. Dan yang paling menyedihkan, terdapat narapidana, yaitu ratu ekstasi si cantik Zarima. Padahal untuk menjadi satpam pabrik saja, harus disertai surat bersih diri. Artinya, tak pernah tersangkut perkara pidana.
Sudah bukan rahasia umum bahwa belakangan ini citra DPR/D terpuruk. Benar-benar buruk. Tidak dipercaya rakyat. Disana/sini bau busuk. Borok semakin terkuak lebar.
Lihat saja sejumlah tokoh terkenal masuk penjara karena terlibat suap. Misalnya; Al Amin Nasution, yang terima suap alih fungsi hutan lindung di Kepulauan Bintan. Sang istri, pedangdut Kristina, pun mengajukan gugatan cerai, karena Al Amin tak hanya terlibat suap, namun juga terjerat asmara dengan wanita lain.
Masih terngiang di telinga kita; 52 anggota Komisi IX DPR RI yang terima aliran dana BI sebesar Rp 100 miliar. Dan, sejumlah lagi anggota DPR yang dicurigai korupsi serta melakukan pelanggaran moral.
Dari berbagai daerah juga muncul kriminalisasi yang melibatkan anggota DPRD. Contoh kecilnya; seluruh anggota DPRD Sidoarjo periode 1999/2004 yang mark up anggaran. Semua sudah divonis penjara, tinggal beberapa yang menunggu masuk lembaga pemasyarakatan, lantaran putusan kasasi dari Mahkamah Agung RI telah turun. Juga anggota DPRD Kota Surabaya yang terlilit suap untuk memuluskan APBD dan proyek pemkot. Dari 45 onggota dewan, 3 diantaranya dari PKS menolak suap.
Melihat fakta menyedihkan tersebut, maka, ke depan, citra DPR/D harus dibangun lagi. Kita tumbuhkan kepercayaan rakyat dengan perbuatan. Jangan hanya memberi janji melulu. Dimana (selama ini) anggota dewan distempel masyarakat hanya duduk, diam, dan terima amplop.
Ke depan, bagaimana memberdayakan anggota DPR/D secara maksimal untuk kepentingan rakyat. Mereka harus benar-benar menjadi wakil rakyat yang baik. Yang mempunyai hati nurani. Yang mengerti nasib rakyat. Yang tahu diri. Yang punya malu. Yang berani memperjuangkan kepentingan wong cilik. Jangan hanya menggerogoti fasilitas yang diberikan negara. Tapi kerjanya nol besar.
Maka, KPU harus lebih transparan. Mengumumkan nama calon sementara, kemudian melakukan investigasi ke lapangan. Mencari masukan dari masyarakat.
Standar terpenting anggota DPR/D ke depan bukan sekedar pandai, tapi sudah kaya, agar tak mudah tergiur uang negara. Dan, yang paling penting adalah akhlak serta moralnya baik. (***)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar