Minggu, 21 September 2008

Caleg Persebaya

Oleh : Sokip, SH

Benar-benar memprihatinkan! Di saat tim yang ditanganinya dirundung masalah keuangan, malah salah satu pengurusnya sibuk kampanye. Inilah yang terjadi di Tim Bajul Ijo, kebanggaan warga Kota Surabaya.

Bagaimana tidak, disaat para pemain menunggu kepastian bonus THR (Tunjangan Hari Raya) dan gelontoran gaji yang setiap bulannya sekitar Rp 600 juta, sang manajernya, Indah Kurnia, malah melakukan aktifitas ‘kampanye’ yang dibungkus dengan bagi-bagi takjil.

“Acara ini tak ada kaitannya dengan pencalegan kami. Lha kalau ini dilihat orang sebagai kampanye untuk promosi, ya terserah. Yang jelas, kami sudah ngetop kok,” ujarnya enteng saat dikonfirmasi wartawan.

Walau si Srikandi ini mengelak tuduhan tersebut dan mengaku kalau kegiatan tersebut sebagai cara komunikasi antara pemain dengan pecinta bola, akan tetapi, bagi ‘orang politik’ pasti akan tahu kalau apa yang dilakukan mantan manajer sebuah bank ini telah melakukan kampanye. Apalagi, Indah sebagai calon legislative (caleg) sebuah partai untuk DPR RI di Daerah Pemilihan (Dapil) Jatim I, Surabaya-Sidoarjo.

Tidak hanya aksi bagi-bagi takjil di Bulan Suci ini. Sejak beberapa pekan ini, masyarakat Surabaya juga disuguhi gambar Indah, dengan mendompleng Persebaya. Di beberapa sudut jalan protokol, nampak gambar Indah dengan kostum olahraga, khas Persebaya, dengan latar belakang para pemainnya.

Selain itu juga ditampilkan beberapa prestasi Indah Kurnia yang tak ada sangkut pautnya dengan Persebaya, seperti direbutnya rekor MURI karena kelihaiannya melantunkan banyak lagu.

Masyarakat Surabaya pun tidak bodoh. Kalau Indah sengaja ingin mengajak masyarakat, khususnya pecinta Persebaya untuk mendukung Tim Bajul Ijo, seharusnya ditampilkan kiat-kiat Indah untuk membuat Persebaya bisa merebut Juara Umum Liga Utama musim ini. Akan tetapi, semua itu tidak dilakukannya.

Tak salah kalau akhirnya sebagian donator apatis dan enggan menyetorkan dana untuk menggaji pemain, walau sebelumnya telah berjanji memberi bantuan. Ini pun sebenarnya sudah dirasakan jajaran manajemen.

Yang patut dipertanyakan, dengan ‘kampanye reklame’ yang dilakukan Indah Kurnia di beberapa sudut kota, yang diperkirakan mengeluarkan dana ratusan juta, dari mana uang untuk membayarnya?

Rasanya sangat mustahil kalau Indah Kurnia mendapatkan gratis. Kalaupun ada pihak-pihak yang berani memberi fasilitas gratis reklame untuk mejeng Indah Kurnia, bukan tidak mungkin ada sesuatu di balik semua itu. Rasanya tidak mungkin memberi gratis tanpa ada embel-embel di kemudian hari. Inilah yang patut menjadi perhatian semua pihak.

Di saat tim sedang dirundung masalah keuangan, yang lebih utama adalah jajaran manajemen Persebaya mencari kiat-kiat khusus yang diharapkan bisa membuat simpati para dermawan untuk menyisihkan uangnya guna melanjutkan denyut nadi Persebaya, yang saat ini sedang sengal-sengal.

Masyarakat justru akan semakin simpatik jika pengurus Persebaya berbuat sesuatu untuk tim, tanpa adanya embel-embel politik. Apalagi, sejak terpuruknya Persebaya musim lalu, masyarakat Surabaya memimpikan kejayaan tim yang bermarkas di Karanggayam itu untuk kembali jaya.

Kalau semua itu benar-benar dilakukan pengurus dan harapan masyarakat pecinta sepakbola bisa diujudkan, bukanlah tidak mungkin Indah akan mendapat tempat di hati masyartakat.

Tentunya, kalau sampai tahun ini Persebaya berhasil merebut tropi juara yang lepas pada 2006 lalu, sangat mudah bagi Indah Kurnia untuk mendulang suara para pecinta Persebaya, dan ini menjadi jalan mulus baginya untuk duduk di kursi empuk Senayan.(juga termuat di Memo edisi 22 September 2008)

Tidak ada komentar: