Kamis, 25 September 2008

Jagal Ngagel Jaya


Oleh : Bondet

Harta membuat banyak orang buta. Miskin menjadi ditakuti. Terutama bagi orang yang biasa hidup serba kecukupan. Motif takut miskin, tidak bisa memberi makan anak, istri, dibelenggu kesulitan hidup, membuat orang yang dalam kondisi kalap lalu mengambil jalan pintas. Langkah terakhir, mereka bunuh diri. Dan, tak jarang di antara mereka berprilaku sadis.
Masih terbayang dalam ingatan kita, membikin trenyuh, kasihan, juga jengkel, ketika mendengar seorang ibu muda membunuh dua anak kandungnya yang masih usia balita (di bawah 5 tahun), gara-gara tidak bisa memberinya makan.
Tragedi kemanusiaan (23/3), sempat menjadi bahan gunjingan mulai dari balai desa, balai kota/kabupaten, provinsi hingga istana negara. Bagaimana mencari solusi? Karena tidak menutup kemungkinan banyak rakyat mengalami nasib yang sama.
Kompleks pemukiman kelas menengah bawah Perumahan Gama Permai I, Pekalongan Barat, akhirnya menasional, karena salah satu penghuninya, Ny. Yuli Itayanti (24), membunuh dua anak kandungnya, Sabilla Putri Jaira (4) dan Fadly Mohammad Nizam (1). Setelah membenamkan kedua anaknya ke bak mandi hingga tak bernyawa, ibu muda ini menyusul bunuh diri. Namun berhasil diselamatkan.
Hidup yang serba pas-pasan membuat ibu rumah tangga ini makin stress ketika menghadapi kenyataan bahwa harga sembako naik terus. Minyak tanah melonjak. Minyak goreng melambung. Sayur mayur hingga tahu/tempe pun membumbung. Sementara upah hasil kerja suaminya yang kuli batu, (untuk ukuran hidup sekarang ini) sangat tidak cukup. Apalagi terkadang nganggur.
Yuli hanya bisa meneteskan air mata sewaktu diprotes anaknya; setiap hari koq makan supermi rebus. Itu pun hasil ngutang di toko sebelah rumah. Fakta inilah yang membuat Yuli semakin tertekan. Dia begitu mencintai dan menyayangi mereka. Dia tak tega melihat anaknya kelaparan. Lalu dia bunuh keduanya, kemudian dia bunuh diri. Itulah motif kuat menjadi pilihan Yuli, ketimbang melihat anaknya kelaparan, lebih baik mati bersama.
Sekarang, Kamis (25/9) pagi, tragedi serupa juga terjadi di Surabaya, tepatnya di Ngagel Jaya No. 82. Januar Stevanus (36), distributor roti terkenal, membunuh istrinya Ny. Seniwati, serta kedua anak kandungnya Yunatan Yansen Sutarto (5) dan Kristeven Kevin Sutarto (3).
Modusnya cukup sadis, dia gorok istri dan kedua anaknya, lalu bunuh diri.
Motif pasti kasus ini masih dalam penyelidikan jajaran Polres Surabaya Timur. Namun berbagai sumber menyebut bahwa Yanuar terbelenggu perkara ekonomi. Ada yang menyatakan tertipu, dikerjai teman bisnis, sehingga takut jatuh miskin. Ada pula yang menyebut Yanuar main valas, sehingga hartanya ludes.
Apapun motifnya, kita merasa sangat prihatin. Kenapa Yanuar sampai memilih jalan pintas, sekaligus mengajak serta istri dan anaknya yang belum mengerti apa-apa.
Kalau melihat tingkat eknomi Yanuar yang cukup mapan, bisa jadi dia terjerat kasus lain. Dan, motif yang kuat untuk tragedi semacam ini umumnya menyangkut masalah cinta, atau perselingkuhan. Kita tunggu saja hasil penyelidikan polisi. (tulisan ini untuk sokip)

1 komentar:

Unknown mengatakan...

om, kalo mau repost berita yang jelas dan benar dan sesuai fakta donk, jangan interpretasi sendiri.