Kita berkuajiban mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati. Dalam situasi ekonomi terpuruk seperti sekarang ini, ditambah harga kebutuhan pokok terus melonjak, apalagi menjelang lebaran, sudah pasti tuntutan kebutuhan juga meningkat. Maka, dalam situasi serta kondisi seperti ini bisa saja memicu kejahatan modus baru. Karena siapapun, dalam kondisi terjepit, butuh makan, akan cenderung berbuat nekat.
Tentu, setiap orang wajib mengantisipasi, melakukan upaya pencegahan secara dini dengan lebih waspada, menahan diri agar tidak mengenakan perhiasan berlebih, atau mencolok yang bisa memancing orang lain untuk berbuat kriminal. Jangan beri kesempatan orang lain untuk berbuat jahat.
Dua minggu belakangan ini, sebagaimana diberikan media masa baik cetak maupun elektronik, bahwa; tren kejahatan meningkat tajam. Di banyak terminal bermunculan pencopet, penipu. Pelaku wajah baru. Tak hanya di kota besar, di sejumlah kota pinggiran banyak perampokan, penjambretan. Pencurian di malam hari juga kambuh di beberapa perumahan.
Kejahatan terus berkembang mengikuti kemajuan jaman. Penipuan via SMS memaksa kita untuk ekstra hati-hati agar tidak menjadi korban. Gendam di angkutan kota. Gara-gara butuh susu untuk anaknya, seorang bapak rela mencuri. Demi nebus obat untuk orangtuanya yang sakit, seorang anak rela mencuri HP. Dan, banyak lagi kejahatan yang motifnya untuk pemenuhan kebutuhan perut, membikin kita mengelus dada.
Fakta tersebut (barangkali) merupakan salah satu resiko dampak kesulitan ekonomi rakyat. Lihat saja, wong cilik pada kebingungan menghadapi tuntutan kebutuhan.
Memang, dalam situasi dan kondisi yang serba sulit, sangat memungkinkan, menumbuhkan kecenderungan untuk berprilaku menyimpang. Melanggar aturan (hukum). Banyak orang semakin nekat, lebih memilih jalan pintas untuk mencapai tujuan.
Lihat saja di pasar, terminal, para sopir angkutan, warung kopi, wong cilik pada mengeluh kesulitan makan. Penjual keliling tak mampu mengejar omset. Balik modal saja sudah bagus. Tukang becak banyak nganggur, jarang narik, karena penumpang lebih memilih jalan kaki ketimbang kehilangan uang Rp 5.000. Kantor Pegadaian justru penuh sesak oleh warga yang antri menggadaikan barangnya.
Kenyataan ini bila tidak segera ada solusi, pemecahan, maka bisa memicu kerawanan sosial.
Sebenarnya, timbulnya kejahatan itu karena adanya kesempatan. Tapi bila seseorang nekat mencuri karena untuk makan, jenis ini yang sulit diantisipasi. Karena mereka melakukan kejahatan lantaran terdesak kebutuhan hidup. (***)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar