Selasa, 23 September 2008

PR Kapolri Baru


Oleh : Bondet Hardjto

Hampir dapat dipastikan Jenderal Polisi bintang tiga Bambang Hendarso Danuri akan diangkat menjadi Kapolri, menggantikan Jenderal Pol Sutanto yang memasuki masa pensiun 30 September 2008 nanti. Saat uji kepatuhan, seluruh fraksi di Komisi III DPR RI secara aklamasi menyatakan setuju. Namun ada beberapa catatan, diantaranya; polisi harus lebih mengedepankan wajah humanis dan melaksanakan komitmen untuk mereformasi Polri secara kultural.
Di tempat lain, Sutanto berpesan agar Bambang Hendarso Danuri tetap melaksanakan kebijakan lama, yaitu anti judi, anti illegal loging dan anti korupsi.
Sudah bukan rahasia umum, selama menjabat Kapolri, Sutanto banyak mengambil kebijakan populis. Secara internal, mampu merubah serta memperbaiki citra Polri, banyak petinggi korup diapenjarakan. Sutanto juga sangat eksis dalam penegakkan hukum, memberi pengayoman masyarakat dari gangguan kamtibmas.
Masih terngiang di telinga kita, sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengkritisi kinerja pemerintahan SBY (2006-2007). Dan, hampir seluruh menteri dianggap gagal, kecuali Kapolri Sutanto. Kapolri dianggap berhasil serta memiliki komitmen kuat untuk membangun citra korp.
Memang, Sutanto banyak menyeret para petinggi Polri, sejumlah jenderal, perwira tinggi dan perwira menengah yang terlibat KKN serta suap. Ini merupakan contoh nyata bahwa Sutanto ingin membawa Polri ke arah profesional. Motto Polri sebagai pengayom, pelindung masyarakat dari gangguan kamtibmas, memang selayaknya segera diwujudkan. Spanduk “tekatku pengabdian terbaik” juga semestinya harus secepatnya direalisasi.
Ke depan, polisi sudah bukan menjadi momok lagi bagi masyarakat. Tapi mitra, sejalan dalam rangka mengubur setiap gangguan ketertiban dan keamanan yang timbul di masyarakat. Berprilaku sopan, santun, sambil tersenyum setiap melayani pencari keadilan. Maka, betapa tenteramnya kehidupan di masyarakat. Tidak seperti sekarang ini, masyarakat masih ketakutan berurusan dengan polisi?
Untuk aparat di bawah, jangan sampai berperan menjadi sapi perahan atasan, yang selalu menjawab “Siap” setiap kali menerima perintah. Dan, menjawab “Siap salah,” setiap kali tidak mampu melaksanakan perintah pimpinan secara maksimal.
Contoh ringan, kehidupan sehari-hari para anggota, yang untuk setiap mobil patroli baik itu di Polsekta maupun Polresta, hanya mendapat jatah bensin 5 liter untuk 24 jam. Apa cukup untuk patroli ke wilayah hukum mereka? Ini, barangkali, menjadi salah satu penyebab anggota terpaksa mencari di lapangan?
Jatah makan untuk tahanan, meski ada anggaran, tapi fakta yang terungkap di beberapa Polsekta/Polresta, sepenuhnya dibebankan pada Kanit Reskrim atau Kasat Reskrim. Padahal, memberi makan tahanan ukuran layak, sehari 3 kali, tergolong berat. Belum lagi pemberkasan perkara, memanggil saksi, pasti membutuhkan beaya. Masih ada lagi, setiap anggota yang membawa buku tilang, semacam diwajibkan ‘setor’. Sehingga, harus ada yang ditilang. Belum lagi perkara-perkara atensi atasan harus ada penangkapan. Mungkin masih banyak lagi persoalan lain yang kita tidak tahu.
Itulah problem di bawah. Sebuah lingkaran setan. Bagai makan buah simalakama. Dengan seabrek beban tersebut apa anggota masih mampu tersenyum bila melayani masyarakat pencari keadilan? Polisi lalu lintas apa sudah tidak mencari-cari kesalahan pelanggar? Mlototi rambu untuk menjebak pelanggar? Polantas apa bisa hanya memberi nasihat saja setiap menemukan pelanggar dengan berkata, “Anda melanggar rambu. Resikonya tinggi, karena membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Lain kali hati-hati,” kemudian dilepas?
Masih banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus dikerjakan Bambang Hendarso Danuri. Untuk Sutanto; Selamat Jalan Jenderal. (tulisan ini untuk sokip)

Tidak ada komentar: