
Oleh
Syahbandiah Esha
A gentleman will walk but never run (Sting/Englishman in New York) ‘TERDAKWA’ salah tangkap Imam Chambali alias Kemat dan David Eko Priyanto tak hanya sosok-sosok bersahaja dan nrimo, khas Jawa. Namun, dalam diri mereka tersimpan jiwa –yang kata orang sono—gentle. Lihatlah, bagaimana reaksi keduanya saat kembali menghirup udara kebebasan yang didamba manusia manapun, kebebasan untuk bisa melakukan aktivitas hidupnya dengan aman dan nyaman. Mereka sama sekali tak menuntut aparat hukum yang menyidik, menyangka, menyidangkan dan mengkerangkeng mereka, di wilayah hukum Jombang, atas kasus pembunuhan Asrori yang tidak pernah mereka lakukan .Ungkapannya murni dari lubuk hati keduanya. Tak ada rekayasa sama sekali dari pihak manapun. Justru orang lain geram karena keduanya tak akan menuntut apapun atas perlakuan aparat hukum pada mereka. David dan Kemat –mantan waria dan sesekali masih tersisa sifat kemayunya saat berbicara—adalah sedikit contoh jiwa-jiwa gentle.
Sebutan gentleman, dari waktu ke waktu memang tiada pernah berubah. Dalam kamus besar bahasa Inggris-Indonesia susunan John M. Echols-Hassan Shadily, gentleman artinya orang yang sopan, santun, penuh kelembutan dalam bersikap dan berbicara. Lebih luas lagi, seorang gentleman tentu akan menjaga segenap martabat dan citra dirinya –termasuk mengakui kekalahan, kesalahan— untuk terus-menerus berada dalam lingkaran kehati-hatian, kebaikan, ketegasan setiap bertindak, dengan tetap mengedepankan kesantunan sehingga terpancar elok, elegan.
Di lapangan bola yang keras dan cenderung kasar itu, ada yang mengatakan ajang tepat menguji jiwa gentle para pelakunya. Betapa, 22 pria dengan kemampuan nyaris sama, bertekad menjadi paling baik, berebut ikon di setiap kompetisi bergengsi dan super ketat. Saling jegal, mengkasari, menyakiti, melukai –di tengah terngiang-ngiangnya motto sportif-- demi meraih tujuan utama, tentulah jauh dari sikap gentle. Andai Zinedine Zidane, ikon sepakbola Perancis tidak mempertontonkan ‘aksi menanduk’ Marco Matterassi, penyerang Timnas Italia di Piala Dunia 2008 belum lama ini, perjalanan karirnya tentu tak akan ‘tercoreng’ dan ia patut ‘berdiri sejajar’ dengan Frans Beckenbauer. Legenda sepakbola Jerman itu mampu membuktikan pancaran jiwa gentle-nya dengan tampilannya yang elegan di dalam maupun di luar lapangan.
Mari bandingkan dengan sederet penguasa, pejabat pemerintahan maupun wakil rakyat dari ujung barat hingga timur negeri ini yang –sampai lelah kita mendengarnya-- bergantian berurusan dengan hukum. Bila akhirnya mereka sampai pada proses hukum, tentu bukan karena jiwa gentle mereka. Para pemegang kekuasan yang tak tahu malu itu, para perekayasa kebijakan tersebut, lebih banyak karena terjebak dan tertangkap oleh aparat berwenang yang mengincarnya sampai berbilang tahun. Belum ada satupun kisah mereka bersedia, rela, menyerahkan diri hingga membuat ringan pekerjaan berwajib. Perilaku korupsi, penyalahgunaan wewenang, pencederaan amanah rakyat itu sendiri, sudah menjauhkan mereka dari watak gentleman.
Masih di lingkup kekuasaan, semestinya kita masih terheran-heran oleh ‘sikap aneh’ aparat hukum yang menangani kasus Kemat cs. Sama sekali tak tergerak melakukan permintaan maaf atas pelanggaran kemanusiaan terhadap dua anak Jombang tersebut. Pun Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.selaku petinggi kepolisian di negeri ini, sekaligus yang paling bertanggungjawab atas kesalahan fatal anak buahnya pada Kemat cs. Kapolri bahkan tegas mengatakan tak akan meminta maaf. Sebuah arogansi pemimpin yang dengan sangat gampang ditemui di negeri ini, sebenarnya. Hingga kini pun, tak ada rehabilitasi, pemulihan nama baik, yang harusnya menjadi bagian terpenting bagi Kemat cs.
Agaknya, tak semua orang dilahirkan memiliki jiwa gentle. Ada yang pengecut, pecundang, pembohong, petaruh. Beruntunglah Kemat dan David. Prototipe pria Jawa sesungguhnya , pemilik jiwa gentle itu : bersahaja, santun, tak menggelegak, hati-hati dan nrimo. Setidaknya, keduanya pun tidak lari dari tuduhan –palsu— yang harus dijalaninya meski di bawah tekanan, ancaman dan siksaan. Benar juga kata Sting, pentolan The Police dalam single hitsnya “Englishman in New York’ yang sangat keren dan filosofis itu. “Confront your enemies, avoid them when you can/ A gentleman will walk but never run. (***)