
Kita semua pasti sepakat dengan harapan persepakbolaan di Indonesia bisa maju. Untuk itu, apapun harus dilakukan demi meraih prestasi. Sementara, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), sebagai induk olahraga sepak bola, rupanya masih belum mampu mewujudkan impian besar masyarakat pecinta sepak bola di negeri ini.
Kondisi inilah yang akhirnya membuat pemerintah ikut bertanggungjawab, hingga merasa perlu diselenggarakan Konggres Sepak Bola Nasional (KSN), yang rencananya dilaksanakan di Malang pada 30-31 Maret mendatang.
KSN ini merupakan ide Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas keprihatinannya melihat prestasi sepak bola Indonesia. Kongres akan dihadiri sekitar 500 peserta dari berbagai unsur, yaitu Kementerian Pemuda dan Olah Raga, PSSI, KONI, PWI, tokoh masyarakat, pengamat olah raga dan mantan pemain Tim Nasional Indonesia.
Sayangnya, sebagai pihak yang merasa berwenang mengelola sepakbola di Indonesia, beberapa pengurus PSSI justru kebakaran jenggot. Hingga silang pendapat pun bermunculan menjelang pelaksanaan KSN yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 3 miliar ini.
Padahal, sejak awal sudah disampaikan pemerintah, melalui Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng, jika pemerintah menghormati PSSI, sehingga KSN bukanlah intervensi pemerintah terhadap PSSI. Malarangeng berharap, ke depan tim nasional mampu menjadi jawara di Asia Tenggara yang kemudian berbicara di Asia dan puncaknya lolos ke Piala Dunia. Sungguh cita-cita yang mulia.
Anehnya, tujuan mulia ini diartikan lain bagi segelintir orang yang merasa kedudukan dan kekuasaannya terancam. Mereka yang selama ini ‘hidup’ dari menghalalkan suap, sebagai salah satu syarat non teknis memenangkan pertandingan, terancam tamat. Belum lagi, pihak-pihak yang selama ini berkuasa dan seenaknya mengeruk keuntungan dari sepak bola, pasti merasa ketar-ketir.
Anehnya lagi, segelintir orang yang selama ini ‘hidup’ dari sepakbola bukannya memikirkan bagaimana sepakbola ke depan berprestasi, tetapi malah menuding ada upaya pemerintah melakukan ‘kudeta’. Benar-benar ketakutan yang berlebihan (paranoid,red).
Anehnya lagi, belum sempat KSN digelar, tiba-tiba muncul even serupa, yaitu Rembuk Sepak Bola Nasional (RSN) yang dilaksanakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, di Hotel Shangrila pada 27-28 Maret ini. Kegiatan yang diketuai Wakil Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim ini bisa dibilang sebagai kegiatan ‘tandingan’ KSN, walau pihaknya mengelak. Benar-benar memprihatinkan, ini bukti kalau antara PWI pusat dengan PWI Jawa Timur tak singkron. Jangan-jangan, karena ini pula, di tubuh kepengurusan PWI Jawa Timur juga pecah?
Sejumlah tokoh diundang dalam RSN tersebut, diantaranya Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, wartawan senior Suryopratomo, budayawan Emha Ainun Nadjib, serta dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Imam Syafi’i. Jika melihat adanya rencana Ketua Umum PSSI Nurdin Halid datang, siapapun akan menilai kalau RSN adalah ‘tandingan’ KSN.
Patut disayangkan kalau akhirnya sesama anak bangsa yang cinta sepak bola ini harus ‘gegeran’. Padahal, mereka sepakat dengan kondisi prestasi sepak bola yang saat ini jeblok, dan harus dibangkitkan. Kalaupun mereka merasa sama-sama ingin mem-prestasi-kan sepak bola, kenapa harus menyelenggarakan rembuk, konggres, atau apapun istilahnya. Lebih baik, duduk bersama, tanpa harus menuding pihak-pihak yang bersalah.
Kondisi seperti ini jangan sampai justru memunculkan (walau sembunyi-sembunyi), pihak-pihak yang berambisi, ingin mengambil keuntungan. Dengan dalih ini dan itu, mendapatkan gerojokan dana besar, lalu membuat panas suasana. Sudah saatnyalah, sebagai anak bangsa yang cinta sepak bola menggunakan akal sehat dan hati nurani, untuk mengambil sikap.
Jangan malah berdalih ingin memberikan masukan untuk sepak bola berprestasi, ujung-ujungnya malah penuh ambisi, untuk mempertahankan kekuasaan ataupun kepentingan pribadi, yang ujung-ujungnya untuk mendapatkan sesuatu. Rakyat Indonesia sudah muak dengan janji-janji selama ini. Sudah saatnya sepak bola bangkit di negeri yang kita cintai ini! Salam olah raga!