Jumat, 23 Januari 2009

Wiranto Belum Temukan Pasangan Pilpres


Calon presiden (capres) Jenderal (purn) Wiranto mengaku belum menemukan sosok calon wakil presiden (cawapres) yang bakal digandengnya untuk merebut posisi RI 1 mendatang. Sang mantan Jendral yang juga Ketua Umum DPP Partai Hanura ini, mengaku masih menunggu perolehan partai politik yang dipimpinnya dalam pemilihan legislatif (pileg) 9 April 2009.
“Untuk mengandeng siapa yang bakal duduk menjadi calon wakil presiden mendampingi saya, masih jauh. Setidaknya kita (Partai Hanura.red) masih melihat perolehan suara pada pileg tiga bulan lagi,” tegas Wiranto.
Dihadapan 1500 calon legislatif (caleg) Partai Hanura se Jatim di Gedung Gramedia Expo, Wiranto mengaku, untuk bisa unggul dalam pemilihan legislative mendatang, jajaran komponen partai politik yang dipimpinnya terus dipacu menjalankan mesin politik. Diantaranya dengan mengumpulkan semua caleg yang diusung partainya untuk mengikrarkan satu tekat, mendapatkan 20 persen dukungan suara secara nasional.
Meraih 20 persen suara di DPR memang dirasakan cukup berat. Namun dengan tekad bersama untuk kepentingan pileg 2009 ini, maka halangan dan rintangan yang ada harus segera dituntaskan. “Semuanya harus dituntaskan, sehingga kepentingan Partai Hanura bisa menempati posisi 3 besar partai politik yang lolos pemilu bisa berjalan mulus,” tegasnnya kembali.
Dengan modal 20 persen suara itu, dipastikan mantan Panglima ABRI (Pangab), maka dirinya akan lebih percaya diri untuk bisa merebut kursi kepresidenan di Istana Negara. “Sesuai dengan persyaratan sebuah partai bisa mencalonkan capres dalam proses pemilihan Presiden/wapres,” terang dia.
Sebagai partai politik baru, kebutuhan mengejar target 20 persen suara pileg bakal menjadi jaminan, jika Partai Hanura layak mendukung calon presiden sendiri. Oleh karena itu, dikumpulkannya 1500 caleg se Jatim tersebut, bakal menjadi jaminan jika mesin politik Partai Hanura benar-benar jalan.
"Targetnya sebesar itu. Tapi hasilnya ya tergantung pada kerja keras semua pengurus partai Hanura. Untuk koalisi dengan partai lain, kita tunggu setelah pemilu digelar. Saya tidak mau berandai-andai," tegasnya ketika ditanya apa langkah Hanura jika seandainya suara Hanura tak mencapai 20 persen
Menurut Wiranto, jumlah pemilih di Jatim dalam pemilu mendatang mencapai angka 29 juta jiwa dinilai memiliki posisi yang strategis dan siginifikan dalam menentukan perolehan kursi partai politik. Untuk itu, ia tetap memacu agar DPD Hanura Jatim dibawah kendali Dossy Iskandar Parsetyo mampu mengejar kebutuhan suara untuk mendongkrak dukungan Hanura secara nasional.
“Di Jawa Timur ini merupakan pertemuan bersama caleg pertama, setelah musyawara nasional Partai Hanura di Makasar. Makannya perlu turun untuk melakukan koordinasi dan pembinaan terhadap caleg yang didorong partai,” kata Wiranto
Ia menilai, jika Partai Hanura meninggalkan warga Jawa Timur, adalah kebodohan. Pasalnya proses penggalangan suara pemilih di Jatim sangat besar. “Itu sebabnya saya turun sendiri di Jatim terkait dengan target Hanura dalam pemilu mendatang," terang Wiranto kembali. (Dikutip dari Harian Pagi Memo)

Kamis, 22 Januari 2009

Gubernur Rakyat

Oleh : Syahbandiah Esha

RAKYAT Jatim nyaris punya pemimpin baru. Pasangan KarSa (Soekarwo-Syaifullah Yusuf) hampir pasti mengukuhkan diri sebagai gubernur dan wakil gubernur Jatim, menyusul pelaksanaan pilgub ekstra di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang, 21 Januari kemarin. Penghitungan suara, memang masih berlangsung sampai saat ini. Hasil sementara, menunjukkan KarSa mampu mengungguli Ka-Ji di hampir semua TPS di dua wilayah coblos ulang tersebut.
Artinya, KarSa masih harus ‘bersabar’ dan ‘menahan diri’ untuk membuktikan bahwa mereka adalah ‘pemenang’ atas pilgub langsung --pertama kali di Jatim—yang amat melelahkan jiwa raga dan dana itu. Meski sejumlah lembaga survei telah menetapkan Karsa unggul, namun, KPU Jatim sebagai lembaga resmi penyelenggara pilgub Jatim, yang paling berhak mengumumkan secara resmi perolehan dalam pilgub ekstra yang menentukan gubernur dan wagub Jatim tersebut.
Hasil akhir pilgub ekstra, seyogyanya memang benar-benar menjadi putusan final atas proses panjang pencarian pemimpin Jatim ini. Rakyat Jatim, tentu sangat tak berharap munculnya lagi ketidakpuasan berbuntut gugatan pada salah satu pasangan calon, hingga memungkinkan pilgub tahap berikutnya, yang sungguh sangat tidak diinginkan. Namun, inilah demokrasi. Aturan juga memberlakukan adanya gugatan akibat pelanggaran-pelanggaran selama pilgub ekstra, dari masing-masing pihak.
Kita juga tidak tahu, apakah gugatan-gugatan yang ‘membanjir’ di meja Panwas Jatim, bakal mampu ‘mementahkan’ hasil pilgub ekstra atau sebaliknya. Yang kita tahu pasti, rakyat sudah sangat ingin memiliki pemimpin baru. Kinilah saatnya bekerja keras bagi gubernur terpilih yang secepatnya diresmikan oleh KPU Jatim melalui pengumumannya.
Sudah terlalu lama, rakyat dan kondisi Jatim tanpa kepemimpinan yang resmi dan jelas. Sudah saatnya, hadir pemimpin yang secepatnya bisa menjaidkan kehidupan dan penghidupan rakyat Jatim lebih baik dari sekarang.
Tugas dan tanggungjawab gubernur dan wagub terpilih nanti, sangat berat. Perekonomian rakyat yang semakin porak poranda akibat kehidupan yang semakin susah, tidak bisa tidak, adalah prioritas yang tidak bisa ditawar-tawar.
Sudah terlalu lama, Jatim dan rakyatnya ‘terbengkelai’ akibat urusan pilgub yang belum juga tuntas dan memakan anggaran hampir Rp 1 triliun ini. Karena itu, amat wajar apabila banyak kalangan berharap tak ada lagi pilgub lanjutan, sebagai protes ketidakpuasan pelaksanaan pilgub ekstra ini.
Sebab, saatnya kini adalah bekerja dan bekerja. Cukup sudah masyarakat Jatim ‘dipertontonkan’ aksi yang melelahkan dan menguras duit rakyat tersebut. Bagi gubernur dan wagub terpilih, yakinlah bahwa anda pemimpin pilihan rakyat. Sebab itu, tak ada alasan untuk tidak memperjuangkan keinginan, kemauan dan kepentingan rakyat. Memang tidak gampang. Apalagi Jatim adalah propinsi dengan jumlah warga yang besar dengan persoalan besar dan rumit di dalamnya. Bukankah kedudukan ‘besar’ menuntut tanggungjawab besar pula? (*)

Wiranto Gembleng 1.500 Caleg



Ketua Umum DPP Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Jenderal (Purn) Wiranto melakukan apel siaga 1.500 calon legislatif (caleg) Partai Hanura se Jatim di Gramedia Expo, Jum’at (22/1).
Penggemblengan caleg oleh mantan Pangab ini diharapkan mampu merebut suara rakyat Jatim, sehingga memenuhi target meraup dukungan 20 persen suara ke Partai Hanura secara nasional.
Ketua DPD Partai Hanura Jatim Dr Dossy Iskandar Prasetyo menjelaskan, apel siaga itu dilakukan untuk menguatkan semangat perjuangan membesarkan Hati Nurani Rakyat. “Kepastian itu sebenarnya sudah ditegaskan dalam konsep komitmen perjuangan Partai Hanura. Tapi kedatangan Pak Wiranto nanti, dipastikan menjadi semangat semua caleg untuk tetap komitmen tarhadap perjuangan partai,” tegas Dossy, Kamis (22/1), sore di Kantor DPD Hanura Jatim Jl. Walikota Mustajab.
Dari 1.500 caleg Partai Hanura se Jatim yang ikut apel siaga, terdiri dari 1.288 caleg dari Kabupaten/Kota se Jatim, 114 caleg Propinsi Jatim dan 102 caleg dari DPR RI.
“Kegiatan ini sangat besar manfaatnya, karena dari 1.500 caleg se Jatim nanti bakal diminta kominten ikut bersama-sama membesarkan partai,” tegas Dossy.
Dalam orasi politiknya nanti, Ketua Umum Hanura bakal memberikan semangat kebersamaan pada ribuan caleg di Jatim untuk tetap konsisten terhadap perjuangan partai. Penguatan dukungan tersebut, bukan saja karena mengejar target 20 persen suara pileg. Termasuk semangat mengusung Wiranto maju calon presiden juga menjadi target utama Partai Hanura.
“Yang penting, kita menjaga semangat komitmen terhadap rel perjuangan Partai Hanura untuk menjadikan Hanura sebagai partai politik terbesar melalui pemilu 9 April 2009 nanti,” tandasnya.
Untuk menuju target nasional itu, Jatim sebagai penyokong terbesar suara Partai Hanura, diharapkan mampu banyak membawa perubahan. Setidaknya target mendapatkan dukungan suara terbesar ke tiga, bakal diikrarkan dalam apel siaga caleg Partai Hanura se Jatim ini.
Dikatakan Dossy, kemenagan Partai Hanura dilakukan dengan dukungan dua hal penting. Pertama, melalui kekuatan calon legislatif. Kedua melalui kekuatan struktural partai. (*)

Jumat, 16 Januari 2009

Wawancara Caleg HANURA





DR. H Dossy Iskandar Prasetyo
Caleg DPR RI Nomer Urut 1

Temukan Kesamaan Cita-Cita di Jendral (purn) Wiranto

Morat-maritnya negara Indonesia saat ini, tidak lain karena ketidak tegasan pemerintah untuk menegakkan hukum. Bahkan carut-marut politik, berbangsa dan bernegara di Indonesia juga tak lepas dari tingkah para politisi yang seringkali terlalu banyak mengumbar janji, padahal tidak banyak berbuat untuk kesejahteraan rakyat.
Kondisi rakyat yang kian sengsara oleh ketidak pastian penegakan hukum, tingginya jumlah pengangguran akibat ancaman PHK dan jurang kemiskinan yang semakin menganga ternyata memerlukan tindakan nyata.
Bahkan, karena susahnya nasib rakyat itu membuat Dr H Dossy Iskandar Prasetyo memilih maju untuk ikut membenahi persoalan kebangsaan. Salah satunya, dirinya maju bertarung sebagai calon legislatif (caleg) DPR RI dari dapil I (Surabaya-Sidoarjo). Pembawaannya yang tegas, seakan bapak tiga anak yang juga ketua DPD Hanura Jatim ini banyak berharap penataan penegakan hukum di tanah air benar-benar memenuhi unsur keadilan.

Alasan apa sehingga anda memilih bergabung dengan Partai Hanura ?

Sebelumnya saya ini, banyak kosentrasi di dunia pendidikan dan organisasi kemasyarakat, termasuk posisi saya yang masih setia menjadi dosen sarjana (S1) dan pasca sarjana (S2) di Ubhara. Begitu melihat carut-marutnya politik di tanah air, muncul niatan saya untuk ikut maju ikut menata bangsa ini. Salah satunya melalui Partai Hanura. Ternyata di partai yang didirikan Jenderal (purn) Wiranto ini, saya menemukan banyak kesamaan cita-cita untuk menjadikan rakyat dan bangsa Indonesia menjadi lebih baik.

Apa kesamaan cita-cita itu ?

Cita-cita yang disampaikan jendral (purn) Wiranto ternyata banyak memberikan ide lebih berani bersikap menata bangsa. Termasuk menggelola republik ini kedepannya menjadi lebih sejahtera. Padahal sebelumnya saya sudah aktif di Partai Golkar Jatim, namun kesamaan cita-cita ikut menata bangsa ternyata saya temukan di Partai Hanura.

Apakah ini yang mendorong anda maju menjadi caleg ?

Untuk melakukan perubahan itu, saya kira yang paling efektif adalah melakukan perubahan melalui jalur politik. Dan saat ini, kekuatan politik ternmyata sangat efektif untuk melakukan perubahan-perubahan yang mendasar di negara ini. Saya berharap melalui Partai Hanura, penataan negara hokum bisa berjalan sesuai dengan harapan rakyat. Yakni berjalannya pemerintahan yang tegas, bijaksana dan membela kepentingan rakyat.


Jika diri anda masuk dilingkungan DPR RI apa yang anda lakukan ?

Saya akan all aut ikut melakukan penataan terhadap kekuasaan. Karena jalur politik ini memang yang paling efektif. Penegakan hukum seharusnya bisa dilakukan tanpa pandang bulu oleh kehakiman. Makannya, posisi kekuasaan kehakiman dalam menjalankan negara hukum harus diberikan peranan priorotas. Yang dulunya pelaksanaan hukum sentralistik. Namun sekarangkan menjadi chek and balance. Termasuk memperkuat pelaksanaan kehakiman. Ini salah satu kesamaan cita-cita dengan Jenderal (pur) Wiranto.

Penilaian anda terkait penegakan hukum saat ini ?

Sekarang belum maksimal, masih ada cela-cela penting yang masih harus disentuh. Banyak persoalan yang harusnya bisa ditindak melalui hukum, namun pada pelaksanaanya banyak yang menyimpang. Ini jelas menjadi salah satu persoalan yang harus diluruskan. Termasuk penegakan hukum yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harusnya didukung. Dan keberhasilan pembongkaran borok korupsi oleh KPK, bukan prestasi eksekutif atau presiden.

Lalu lembaga hukum apa yang ideal ?

Seandainya presiden (SBY-JK) mampu melakukan penegakan hukum, maka tidak perlu ada KPK. Dua intitusi penegak hukum, yang perlu dilakukan perkuatanadalah kepolisian dan hakim. Berdirinya KPK menunjukkan ketidak mampuan pemerintah (SBY-JK) dalam amanat penegakan hukum.
Memang berat menata bangsa ini. Karena kita semua sangat tidak konsisten terhadap kebijakan hukum. Termasuk tidak tegasnya pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan.


Seberapa menarik Partai Hanura bagi anda dibanding 37 partai lain?

Sejak awal partai Hanura berdiri, adalah partai politik yang paling responsive dalam bereaksi terhadap kebutuhan masyarakat. Sepengetahuan saya, pergerakan partai politik ini seringkali banyak membantu persoalan masyarakat, seperti korban-korban bencana. Intinya sejak awal partai ini banyak menjawab kebutuhan riil di masyarakat. Saya berharap partai politik ini mampu ikut memperkuat penataan berbangsa dan bernegara.

Kalau kita tarik ke isyu local (Surabaya-Sidoarjo), apa yang anda lihat dalam problem Lumpur Sidoarjo ?


Bencana Lumpur ini sudah sedemikian lama merenggut kehidupan masyarakat banyak. Tidak hanya dirasakan oleh warga sekitar lokasi bencana, tetapi secara lebih makro, aktitifitas masyarakat Jawa Timur juga terhambat karena akses tidak normal.
Sementara warga yang menjadi korban dampak lumpur secara langsung sampai saat ini juga masih dihantui tentang proses ganti rugi yang belum selesai.
Bagaimanapun juga warga korban Lumpur harus dientas dan dibantu penyelesaian. Warga korban Lumpur jangan dibikin tergantung sampai tiga tahun seperti ini. Makannya untuk mengatasi masalah lumpur itu, diperlukan sosok pemimpin 2009-2014 yang tegas dalam mengambil sikap. Seperti Janderal (purn) Wiranto.

Bagaimana peran pemerintah pusat dalam bencana ini?

Mestinya, pemerintah pusat harus lebih progresif lagi ikut menyelesaikan masalah ini, karena dampak dari bencana ini sudah tidak lagi menjadi isyu local dan nasional saja, bahkan dunia internasional.
Masalahnya persiden sebagai pengusa tertinggi tidak mampu menjalankan kewenangannya yang harusnya membela hajat hidup rakyat disana (Porong.red). Padalah di APBN sudah disiapkan, eksekutif jangan ragu-ragu membela warga korban lumpur. Segera diputuskan jangan takut di impace. Kan ada MK, salah ngak terkait penggunaan untuk warga korban Lapindo. Biar Mahkamah Konstitusi yang melakukan penilaian jika ada protes dari DPR.


Pandangan anda tentang pemerintah saat ini ?


Harusnya penunjukan keteladaan bagi warga masyarakat,. Dan harus ada konsitensi dari pengusa. Kalau ada rakyat miskin ya… jangan berfoya-foya. Kalau sudah jadi setelah dipilih rakyat ya… janjinya harus segera dipenuji, ini prioritas.


Keyakinan anda meraih suara?

Saya masih optimis masyarakat membutuhkan perubahan. Nama besar (apalagi status quo) belum tentu menjamin dapat merubah kondisi. Dan saya yakin, masyarakat akan memberi kesempatan bagi kaum muda untuk berkiprah dan membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi mereka. Saya sendiri berasal dari Surabaya dan besar disini. Insya Allah saya mendapat dukungan dari rakyat. (*)

Minggu, 11 Januari 2009

Hanura Surabaya Ruwatan



Upaya untuk melestarikan kebudayaan sendiri dari gempuran budaya asing yang semakin sengit, terus dilakukan oleh mereka yang peduli. Di antaranya dengan menggelar ruwatan massal dan sedekah bumi Surabaya yang digelar di Gedung Nasional Indonesia, Jl Bubutan, Minggu (11/1).
Acara yang digelar atas kerja sama Partai Hanura Surabaya, Masprawira (Masyarakat Pecinta Wiranto) dan Sanggar Makhuto berlangsung sangat meriah. Acara ini diawali dengan arak-arakan orang membawa ancak berisi makanan yang merupakan ciri dari sedekah bumi. Setelah itu dilanjut dengan ruwatan sebanyak 250 orang, yang diantaranya ada beberapa caleg dari Partai Hanura. Setelah itu pementasan wayang kulit dengan dalang Ki Karyono yang mengisahkan tentang batara kala atau murwokolo .
Dr Ibrahim Hasyim, caleg DPR RI Dapil II dari Partai Hanura ini menyatakan sangat mendukung acara ini. Apalagi saat ini, sudah banyak masyarakat yang melupakan budayanya sendiri.
“Kami tidak ingin, bangsa Indonesia untuk memperlajari soal ruwatan atau sedekah bumi harus pergi ke Belanda. Untuk itu, pemerintah dan masyarakat harus melestarikannya sejak sekarang jika tidak ingin kebudayaannya semakin tergerus,” jelasnya seraya menambahkan lewat kegiatan ini juga ia ingin masyarakat akan tahu tentang kegiatan partai pimpinan Wiranto ini.
Hal senada diungkapkan Didik, sekretaris Masprawira. Ia menambahkan, acara sedakh bumi dan ruwatan ini sebagai bentuk pelestarian budaya. Ternyata, masyarakat banyak yang berminat dalam cara tersebut. Hal ini membuktikan masih banyak pendukung kebudayaan Jawa ini. (#)