Senin, 29 September 2008

Kleptocracy Society

Oleh :Uha BH

Saya masih ingat betul, saat H Agil H Ali pidato pada peluncuran Tabloid Mitra Rakyat di Garden Palace Surabaya tahun 2004. Saat itu yang hadir ada Sekdaprov Jatim serta beberapa pejabat Jatim, Sam Abede Pareno, tokoh-tokoh politik Jatim dll.

“Saat ini kita telah memasuki sebuah Negara Kleptocracy Society, yaitu sebuah Negara yang dijalankan para maling dari para maling untuk para maling. Semua asset Negara dikelola oleh manusia-manusia tamak dan rakus, aturan hidup berbangsapun disusun oleh orang-orang rakus, kemudian diawasi oleh mereka yang rakus. Akibatnya Negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, habis dimakan maling-maling yang dipelihara Negara”kata Agil berapi-api.

“Namun, masyarakat jangan cemas. Sebab ada cara yang mampu mengikis persoalan seperti jaman Yunani ini. Apa cara itu?. Yaitu hidup dengan hati nurani, bekerja dengan nurani, berpolitik dengan nurani dan yang paling penting wartawan menulis dengan nurani. Maka jika masyarakat sudah menggunakan hati nurani, maka habislah model Negara seperti itu” tambah Agil.

Bagaimana menurut anda?

(Tulisan Uha Bh buat Sokip)

Kamis, 25 September 2008

Jagal Ngagel Jaya


Oleh : Bondet

Harta membuat banyak orang buta. Miskin menjadi ditakuti. Terutama bagi orang yang biasa hidup serba kecukupan. Motif takut miskin, tidak bisa memberi makan anak, istri, dibelenggu kesulitan hidup, membuat orang yang dalam kondisi kalap lalu mengambil jalan pintas. Langkah terakhir, mereka bunuh diri. Dan, tak jarang di antara mereka berprilaku sadis.
Masih terbayang dalam ingatan kita, membikin trenyuh, kasihan, juga jengkel, ketika mendengar seorang ibu muda membunuh dua anak kandungnya yang masih usia balita (di bawah 5 tahun), gara-gara tidak bisa memberinya makan.
Tragedi kemanusiaan (23/3), sempat menjadi bahan gunjingan mulai dari balai desa, balai kota/kabupaten, provinsi hingga istana negara. Bagaimana mencari solusi? Karena tidak menutup kemungkinan banyak rakyat mengalami nasib yang sama.
Kompleks pemukiman kelas menengah bawah Perumahan Gama Permai I, Pekalongan Barat, akhirnya menasional, karena salah satu penghuninya, Ny. Yuli Itayanti (24), membunuh dua anak kandungnya, Sabilla Putri Jaira (4) dan Fadly Mohammad Nizam (1). Setelah membenamkan kedua anaknya ke bak mandi hingga tak bernyawa, ibu muda ini menyusul bunuh diri. Namun berhasil diselamatkan.
Hidup yang serba pas-pasan membuat ibu rumah tangga ini makin stress ketika menghadapi kenyataan bahwa harga sembako naik terus. Minyak tanah melonjak. Minyak goreng melambung. Sayur mayur hingga tahu/tempe pun membumbung. Sementara upah hasil kerja suaminya yang kuli batu, (untuk ukuran hidup sekarang ini) sangat tidak cukup. Apalagi terkadang nganggur.
Yuli hanya bisa meneteskan air mata sewaktu diprotes anaknya; setiap hari koq makan supermi rebus. Itu pun hasil ngutang di toko sebelah rumah. Fakta inilah yang membuat Yuli semakin tertekan. Dia begitu mencintai dan menyayangi mereka. Dia tak tega melihat anaknya kelaparan. Lalu dia bunuh keduanya, kemudian dia bunuh diri. Itulah motif kuat menjadi pilihan Yuli, ketimbang melihat anaknya kelaparan, lebih baik mati bersama.
Sekarang, Kamis (25/9) pagi, tragedi serupa juga terjadi di Surabaya, tepatnya di Ngagel Jaya No. 82. Januar Stevanus (36), distributor roti terkenal, membunuh istrinya Ny. Seniwati, serta kedua anak kandungnya Yunatan Yansen Sutarto (5) dan Kristeven Kevin Sutarto (3).
Modusnya cukup sadis, dia gorok istri dan kedua anaknya, lalu bunuh diri.
Motif pasti kasus ini masih dalam penyelidikan jajaran Polres Surabaya Timur. Namun berbagai sumber menyebut bahwa Yanuar terbelenggu perkara ekonomi. Ada yang menyatakan tertipu, dikerjai teman bisnis, sehingga takut jatuh miskin. Ada pula yang menyebut Yanuar main valas, sehingga hartanya ludes.
Apapun motifnya, kita merasa sangat prihatin. Kenapa Yanuar sampai memilih jalan pintas, sekaligus mengajak serta istri dan anaknya yang belum mengerti apa-apa.
Kalau melihat tingkat eknomi Yanuar yang cukup mapan, bisa jadi dia terjerat kasus lain. Dan, motif yang kuat untuk tragedi semacam ini umumnya menyangkut masalah cinta, atau perselingkuhan. Kita tunggu saja hasil penyelidikan polisi. (tulisan ini untuk sokip)

Selasa, 23 September 2008

PR Kapolri Baru


Oleh : Bondet Hardjto

Hampir dapat dipastikan Jenderal Polisi bintang tiga Bambang Hendarso Danuri akan diangkat menjadi Kapolri, menggantikan Jenderal Pol Sutanto yang memasuki masa pensiun 30 September 2008 nanti. Saat uji kepatuhan, seluruh fraksi di Komisi III DPR RI secara aklamasi menyatakan setuju. Namun ada beberapa catatan, diantaranya; polisi harus lebih mengedepankan wajah humanis dan melaksanakan komitmen untuk mereformasi Polri secara kultural.
Di tempat lain, Sutanto berpesan agar Bambang Hendarso Danuri tetap melaksanakan kebijakan lama, yaitu anti judi, anti illegal loging dan anti korupsi.
Sudah bukan rahasia umum, selama menjabat Kapolri, Sutanto banyak mengambil kebijakan populis. Secara internal, mampu merubah serta memperbaiki citra Polri, banyak petinggi korup diapenjarakan. Sutanto juga sangat eksis dalam penegakkan hukum, memberi pengayoman masyarakat dari gangguan kamtibmas.
Masih terngiang di telinga kita, sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengkritisi kinerja pemerintahan SBY (2006-2007). Dan, hampir seluruh menteri dianggap gagal, kecuali Kapolri Sutanto. Kapolri dianggap berhasil serta memiliki komitmen kuat untuk membangun citra korp.
Memang, Sutanto banyak menyeret para petinggi Polri, sejumlah jenderal, perwira tinggi dan perwira menengah yang terlibat KKN serta suap. Ini merupakan contoh nyata bahwa Sutanto ingin membawa Polri ke arah profesional. Motto Polri sebagai pengayom, pelindung masyarakat dari gangguan kamtibmas, memang selayaknya segera diwujudkan. Spanduk “tekatku pengabdian terbaik” juga semestinya harus secepatnya direalisasi.
Ke depan, polisi sudah bukan menjadi momok lagi bagi masyarakat. Tapi mitra, sejalan dalam rangka mengubur setiap gangguan ketertiban dan keamanan yang timbul di masyarakat. Berprilaku sopan, santun, sambil tersenyum setiap melayani pencari keadilan. Maka, betapa tenteramnya kehidupan di masyarakat. Tidak seperti sekarang ini, masyarakat masih ketakutan berurusan dengan polisi?
Untuk aparat di bawah, jangan sampai berperan menjadi sapi perahan atasan, yang selalu menjawab “Siap” setiap kali menerima perintah. Dan, menjawab “Siap salah,” setiap kali tidak mampu melaksanakan perintah pimpinan secara maksimal.
Contoh ringan, kehidupan sehari-hari para anggota, yang untuk setiap mobil patroli baik itu di Polsekta maupun Polresta, hanya mendapat jatah bensin 5 liter untuk 24 jam. Apa cukup untuk patroli ke wilayah hukum mereka? Ini, barangkali, menjadi salah satu penyebab anggota terpaksa mencari di lapangan?
Jatah makan untuk tahanan, meski ada anggaran, tapi fakta yang terungkap di beberapa Polsekta/Polresta, sepenuhnya dibebankan pada Kanit Reskrim atau Kasat Reskrim. Padahal, memberi makan tahanan ukuran layak, sehari 3 kali, tergolong berat. Belum lagi pemberkasan perkara, memanggil saksi, pasti membutuhkan beaya. Masih ada lagi, setiap anggota yang membawa buku tilang, semacam diwajibkan ‘setor’. Sehingga, harus ada yang ditilang. Belum lagi perkara-perkara atensi atasan harus ada penangkapan. Mungkin masih banyak lagi persoalan lain yang kita tidak tahu.
Itulah problem di bawah. Sebuah lingkaran setan. Bagai makan buah simalakama. Dengan seabrek beban tersebut apa anggota masih mampu tersenyum bila melayani masyarakat pencari keadilan? Polisi lalu lintas apa sudah tidak mencari-cari kesalahan pelanggar? Mlototi rambu untuk menjebak pelanggar? Polantas apa bisa hanya memberi nasihat saja setiap menemukan pelanggar dengan berkata, “Anda melanggar rambu. Resikonya tinggi, karena membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Lain kali hati-hati,” kemudian dilepas?
Masih banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus dikerjakan Bambang Hendarso Danuri. Untuk Sutanto; Selamat Jalan Jenderal. (tulisan ini untuk sokip)

Minggu, 21 September 2008

Caleg Persebaya

Oleh : Sokip, SH

Benar-benar memprihatinkan! Di saat tim yang ditanganinya dirundung masalah keuangan, malah salah satu pengurusnya sibuk kampanye. Inilah yang terjadi di Tim Bajul Ijo, kebanggaan warga Kota Surabaya.

Bagaimana tidak, disaat para pemain menunggu kepastian bonus THR (Tunjangan Hari Raya) dan gelontoran gaji yang setiap bulannya sekitar Rp 600 juta, sang manajernya, Indah Kurnia, malah melakukan aktifitas ‘kampanye’ yang dibungkus dengan bagi-bagi takjil.

“Acara ini tak ada kaitannya dengan pencalegan kami. Lha kalau ini dilihat orang sebagai kampanye untuk promosi, ya terserah. Yang jelas, kami sudah ngetop kok,” ujarnya enteng saat dikonfirmasi wartawan.

Walau si Srikandi ini mengelak tuduhan tersebut dan mengaku kalau kegiatan tersebut sebagai cara komunikasi antara pemain dengan pecinta bola, akan tetapi, bagi ‘orang politik’ pasti akan tahu kalau apa yang dilakukan mantan manajer sebuah bank ini telah melakukan kampanye. Apalagi, Indah sebagai calon legislative (caleg) sebuah partai untuk DPR RI di Daerah Pemilihan (Dapil) Jatim I, Surabaya-Sidoarjo.

Tidak hanya aksi bagi-bagi takjil di Bulan Suci ini. Sejak beberapa pekan ini, masyarakat Surabaya juga disuguhi gambar Indah, dengan mendompleng Persebaya. Di beberapa sudut jalan protokol, nampak gambar Indah dengan kostum olahraga, khas Persebaya, dengan latar belakang para pemainnya.

Selain itu juga ditampilkan beberapa prestasi Indah Kurnia yang tak ada sangkut pautnya dengan Persebaya, seperti direbutnya rekor MURI karena kelihaiannya melantunkan banyak lagu.

Masyarakat Surabaya pun tidak bodoh. Kalau Indah sengaja ingin mengajak masyarakat, khususnya pecinta Persebaya untuk mendukung Tim Bajul Ijo, seharusnya ditampilkan kiat-kiat Indah untuk membuat Persebaya bisa merebut Juara Umum Liga Utama musim ini. Akan tetapi, semua itu tidak dilakukannya.

Tak salah kalau akhirnya sebagian donator apatis dan enggan menyetorkan dana untuk menggaji pemain, walau sebelumnya telah berjanji memberi bantuan. Ini pun sebenarnya sudah dirasakan jajaran manajemen.

Yang patut dipertanyakan, dengan ‘kampanye reklame’ yang dilakukan Indah Kurnia di beberapa sudut kota, yang diperkirakan mengeluarkan dana ratusan juta, dari mana uang untuk membayarnya?

Rasanya sangat mustahil kalau Indah Kurnia mendapatkan gratis. Kalaupun ada pihak-pihak yang berani memberi fasilitas gratis reklame untuk mejeng Indah Kurnia, bukan tidak mungkin ada sesuatu di balik semua itu. Rasanya tidak mungkin memberi gratis tanpa ada embel-embel di kemudian hari. Inilah yang patut menjadi perhatian semua pihak.

Di saat tim sedang dirundung masalah keuangan, yang lebih utama adalah jajaran manajemen Persebaya mencari kiat-kiat khusus yang diharapkan bisa membuat simpati para dermawan untuk menyisihkan uangnya guna melanjutkan denyut nadi Persebaya, yang saat ini sedang sengal-sengal.

Masyarakat justru akan semakin simpatik jika pengurus Persebaya berbuat sesuatu untuk tim, tanpa adanya embel-embel politik. Apalagi, sejak terpuruknya Persebaya musim lalu, masyarakat Surabaya memimpikan kejayaan tim yang bermarkas di Karanggayam itu untuk kembali jaya.

Kalau semua itu benar-benar dilakukan pengurus dan harapan masyarakat pecinta sepakbola bisa diujudkan, bukanlah tidak mungkin Indah akan mendapat tempat di hati masyartakat.

Tentunya, kalau sampai tahun ini Persebaya berhasil merebut tropi juara yang lepas pada 2006 lalu, sangat mudah bagi Indah Kurnia untuk mendulang suara para pecinta Persebaya, dan ini menjadi jalan mulus baginya untuk duduk di kursi empuk Senayan.(juga termuat di Memo edisi 22 September 2008)

Kamis, 18 September 2008

Kejahatan Jelang Lebaran

oleh : Sokip, SH

Kita berkuajiban mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati. Dalam situasi ekonomi terpuruk seperti sekarang ini, ditambah harga kebutuhan pokok terus melonjak, apalagi menjelang lebaran, sudah pasti tuntutan kebutuhan juga meningkat. Maka, dalam situasi serta kondisi seperti ini bisa saja memicu kejahatan modus baru. Karena siapapun, dalam kondisi terjepit, butuh makan, akan cenderung berbuat nekat.
Tentu, setiap orang wajib mengantisipasi, melakukan upaya pencegahan secara dini dengan lebih waspada, menahan diri agar tidak mengenakan perhiasan berlebih, atau mencolok yang bisa memancing orang lain untuk berbuat kriminal. Jangan beri kesempatan orang lain untuk berbuat jahat.
Dua minggu belakangan ini, sebagaimana diberikan media masa baik cetak maupun elektronik, bahwa; tren kejahatan meningkat tajam. Di banyak terminal bermunculan pencopet, penipu. Pelaku wajah baru. Tak hanya di kota besar, di sejumlah kota pinggiran banyak perampokan, penjambretan. Pencurian di malam hari juga kambuh di beberapa perumahan.
Kejahatan terus berkembang mengikuti kemajuan jaman. Penipuan via SMS memaksa kita untuk ekstra hati-hati agar tidak menjadi korban. Gendam di angkutan kota. Gara-gara butuh susu untuk anaknya, seorang bapak rela mencuri. Demi nebus obat untuk orangtuanya yang sakit, seorang anak rela mencuri HP. Dan, banyak lagi kejahatan yang motifnya untuk pemenuhan kebutuhan perut, membikin kita mengelus dada.
Fakta tersebut (barangkali) merupakan salah satu resiko dampak kesulitan ekonomi rakyat. Lihat saja, wong cilik pada kebingungan menghadapi tuntutan kebutuhan.
Memang, dalam situasi dan kondisi yang serba sulit, sangat memungkinkan, menumbuhkan kecenderungan untuk berprilaku menyimpang. Melanggar aturan (hukum). Banyak orang semakin nekat, lebih memilih jalan pintas untuk mencapai tujuan.
Lihat saja di pasar, terminal, para sopir angkutan, warung kopi, wong cilik pada mengeluh kesulitan makan. Penjual keliling tak mampu mengejar omset. Balik modal saja sudah bagus. Tukang becak banyak nganggur, jarang narik, karena penumpang lebih memilih jalan kaki ketimbang kehilangan uang Rp 5.000. Kantor Pegadaian justru penuh sesak oleh warga yang antri menggadaikan barangnya.
Kenyataan ini bila tidak segera ada solusi, pemecahan, maka bisa memicu kerawanan sosial.
Sebenarnya, timbulnya kejahatan itu karena adanya kesempatan. Tapi bila seseorang nekat mencuri karena untuk makan, jenis ini yang sulit diantisipasi. Karena mereka melakukan kejahatan lantaran terdesak kebutuhan hidup. (***)

Kota Santri dan Hotel Mesum

Oleh : Sokip, SH

Jombang, memang identik dengan Kota Santri. Selain budaya islami sudah melekat di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jombang, ratusan Pondok Pesantren (Ponpes) juga menyebar di kabupaten yang berpenduduk 1 juta 150 ribu jiwa itu. Apalagi, banyak tokoh nasional berbasis Islam juga dilahirkan di Jombang.
Gus Dur adalah salah satu tokoh nasional yang berasal dari Jombang. Selain mantan Presiden RI ini juga masih banyak tokoh lainnya, seperti budayawan Ainunnajib.
Sayangnya, nama harum Jombang yang telah ditorehkan beberapa tokok nasional tersebut di Bulan Suci ini sedikit tercoreng. Bagaimana tidak, disaat msayarakat muslim sedang menjalankan Ibadah Pusara Ramadan, ternyata masih ada segelintir orang yang mengotorinya.
Semua ini dibuktikan dengan diamankannya 7 orang pasang yang diduga sedang berbuat mesum di hotel. Mereka pun harus berurusan dengan petugas Polres Jombang untuk menjalani pemeriksaan. Pasangan itu diduga sedang melakukan perbuatan asusila, karena ditemukan KTP yang berbeda.
Bisa jadi, akibat ulah segelintir orang yang ditangkap polisi itu bisa saja mencoreng budaya masyarakat Jombang yang santri dan menjunjung tinggi norma agama. Untuk itulah, polisi harus bertindak tegas. Pasalnya, mereka tidak hanya telah melanggar norma hokum, tetapi juga telah mencederai norma agama serta budaya masyarakat Jombang.
Tidak cukup hanya pelaku mesum yang seharusnya mendapatkan sanksi. Rasanya tidak mungkin terjadi kalau saja pihak hotel yang disewa tidak memberikan kelonggaran. Karena itulah, pengelola hotel juga sepantasnya mendapat sanksi. Minimal sanksi administrasi dan pemda setempat.
Bisa jadi, akibat kelonggaran dari pemerintah setempat, banyak hotel-hotel di Jombang yang mokong. Tanpa menyeleksi tamunya yang akan menginap, mereka meloloskan pasangan mesum menyewa kamar.
Seperti di hotel yang ditemukan ada penghuni yang diduga sedang kencan, diantaranya Hotel Indah. Di hotel ini, polisi memeriksa sebuah kamar yang dihuni oknum tentara bernama Prada SM bersama seorang perempuan. SM mengaku kalau perempuan yang bersama dirinya adalah adik kandungnya.
Di hotel yang sama, polisi mendapati dua orang berlainan jenis berusia 40 tahun, yang tak bisa menunjukkan surat nikah. Di Hotel Netral, polisi menemukan tiga pasangan yang diduga berselingkuh. Di hotel Borobudur, polisi mengamankan sepasang muda-mudi berusia 20 tahun di dalam kamar.
Tiga buah hotel masing-masing Hotel Kartika Indah, Hotel Sentral dan Hotel Suimber Rejeki juga diperiksa polisi. Namun di ketiga hotel ini, polisi tiak menemukan hasil apapun. Ketujuh pasangan bukan muhrim yang terkena razia langsung dibawa menuju Polres Jombang untuk dilakukan pendataan.

Senin, 08 September 2008

Caleg Bermoral


Oleh : Sokip, SH

Kita sangat layak merasa prihatin mendengar bekas orang hukuman (terpidana) masuk bursa DCS (daftar calon sementara), diusulkan partai untuk duduk di kursi DPR RI.
Sebagaimana kita ketahui, hampir seluruh media baik cetak maupun elektronik memberitakan penyerahan daftar nama calon sementara anggota DPR RI dari partai politik (parpol) ke KPU (komisi pemilihan umum).
Siapa saja mereka yang layak menjadi wakil rakyat di gedung megah Senayan? Informasinya; selain masih didominasi tokoh lama, muncul golongan muda dari kalangan artis yang kepintarannya banyak diragukan praktisi. Dan yang paling menyedihkan, terdapat narapidana, yaitu ratu ekstasi si cantik Zarima. Padahal untuk menjadi satpam pabrik saja, harus disertai surat bersih diri. Artinya, tak pernah tersangkut perkara pidana.
Sudah bukan rahasia umum bahwa belakangan ini citra DPR/D terpuruk. Benar-benar buruk. Tidak dipercaya rakyat. Disana/sini bau busuk. Borok semakin terkuak lebar.
Lihat saja sejumlah tokoh terkenal masuk penjara karena terlibat suap. Misalnya; Al Amin Nasution, yang terima suap alih fungsi hutan lindung di Kepulauan Bintan. Sang istri, pedangdut Kristina, pun mengajukan gugatan cerai, karena Al Amin tak hanya terlibat suap, namun juga terjerat asmara dengan wanita lain.
Masih terngiang di telinga kita; 52 anggota Komisi IX DPR RI yang terima aliran dana BI sebesar Rp 100 miliar. Dan, sejumlah lagi anggota DPR yang dicurigai korupsi serta melakukan pelanggaran moral.
Dari berbagai daerah juga muncul kriminalisasi yang melibatkan anggota DPRD. Contoh kecilnya; seluruh anggota DPRD Sidoarjo periode 1999/2004 yang mark up anggaran. Semua sudah divonis penjara, tinggal beberapa yang menunggu masuk lembaga pemasyarakatan, lantaran putusan kasasi dari Mahkamah Agung RI telah turun. Juga anggota DPRD Kota Surabaya yang terlilit suap untuk memuluskan APBD dan proyek pemkot. Dari 45 onggota dewan, 3 diantaranya dari PKS menolak suap.
Melihat fakta menyedihkan tersebut, maka, ke depan, citra DPR/D harus dibangun lagi. Kita tumbuhkan kepercayaan rakyat dengan perbuatan. Jangan hanya memberi janji melulu. Dimana (selama ini) anggota dewan distempel masyarakat hanya duduk, diam, dan terima amplop.
Ke depan, bagaimana memberdayakan anggota DPR/D secara maksimal untuk kepentingan rakyat. Mereka harus benar-benar menjadi wakil rakyat yang baik. Yang mempunyai hati nurani. Yang mengerti nasib rakyat. Yang tahu diri. Yang punya malu. Yang berani memperjuangkan kepentingan wong cilik. Jangan hanya menggerogoti fasilitas yang diberikan negara. Tapi kerjanya nol besar.
Maka, KPU harus lebih transparan. Mengumumkan nama calon sementara, kemudian melakukan investigasi ke lapangan. Mencari masukan dari masyarakat.
Standar terpenting anggota DPR/D ke depan bukan sekedar pandai, tapi sudah kaya, agar tak mudah tergiur uang negara. Dan, yang paling penting adalah akhlak serta moralnya baik. (***)

Minggu, 07 September 2008

Caleg Beken

Dari laporan kompas.com (04/08/08), Hanura merilis caleg partai mereka yang didominasi nama-nama beken. Sebut saja AS Hikam, mantan Menneg Ristek era pemerintahan KH Abdurrahman Wahid, yang akan maju sebagai caleg untuk Provinsi Jawa Timur. Pengacara kondang yang dikenal dekat dengan keluarga Cendana, Elsa Syarief, akan mengadu nasib menjadi calon wakil rakyat untuk Provinsi Lampung.

Nama lainnya adalah mantan Gubernur PTIK Faroek Muhammad serta Wakil Gubernur NTB TB Rayes. Istri Ketua Umum Hanura Uga Wiranto untuk Provinsi Gorontalo, kemudian artis Gusti Randa yang akan mencoba peruntungan sebagai wakil rakyat untuk Provinsi Sumatera Barat.

Konglomerat pemilik Inti Fauzi, Fauzi Hamid, serta artis Anwar Fuadi sebagai calon wakil rakyat Provinsi Sumatera Selatan. Mantan Sekda Rajab Sumandawai untuk Provinsi Sumatera Utara. Mantan kader Golkar yang sempat hijrah ke PAN, kini salah seorang petinggi Hanura, Fuad Bawazier, caleg untuk Provinsi Banten.

Ada juga mantan Gubernur Kalimantan Tengah JH Nihin yang sedianya akan ikut serta meramaikan bursa calon wakil rakyat. Artis lawas Mutiara Sani juga ikut dicalonkan. Kemudian, ada purnawirawan TNI Jendral Suaidy Marassabesy untuk Provinsi Maluku, mantan Kapuspenkum Kejaksaan Agung Suhandoyo yang sedianya akan mencoba peruntungan sebagai calon wakil rakyat untuk Provinsi Pekanbaru, Riau.

Sementara itu, Ketua DPR Agung Laksono minta masyarakat bersikap kritis terhadap daftar calon legislatif yang akan segera diumumkan Komisi Pemilihan umum (KPU). Jangan sampai calon legislatif tersebut termasuk kategori tidak bermoral, koruptor dan tidak mendengar aspirasi rakyat.